Artikel Tanggal Publikasi: 11 September 2026

Berdialog dengan Al-Qur'an

Berdialog dengan Al-Qur'an

KH. Kholil Rurohman, M.Pd., M.Pd.I.

Penulis

“Kami tidak mengutus seorang Rasul, melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka…”

Sebagian ayat ke-4 surat Ibrahim di atas menegaskan bahwa semua Rasul dalam berdakwah telah melakukan sinkronisasi antara kehendak Alloh sebagai Sang Pemberi Wahyu dan penerimaan manusia sebagai objek wahyu tersebut. Dengan kata lain, telah melakukan sinkronisasi antara teks Alloh dengan konteks manusia. Bagi para Rasul, problem pertama yang harus dipecahkan ialah, bagaimana menyampaikan kehendak Tuhan yang menggunakan bahasa “langit” sebagai teks suci kepada manusia yang menggunakan bahasa “bumi” yang selalu beriringan dengan konteks tertentu. Persoalan teks dan konteks ini menjadi sangat penting, sebab teks wahyu Alquran berfungsi sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia. Petunjuk itu bisa berfungsi dengan baik manakala yang diberi petunjuk memahami isi petunjuk tersebut. Untuk itu, sangat penting menjadikan Alquran sebagai mitra dialog ketika umat Islam membacanya.

Problem kedua ialah, bagaimana menjelaskan isi teks keagamaan kepada masyarakat yang hidup dalam tempat dan kurun waktu yang berbeda. Mengingat bahasa manusia demikian banyak ragamnya, sedangkan setiap bahasa mencerminkan pola budaya tertentu. Maka, problem penafsiran dan terjemahan merupakan problem pokok. Dengan begitu problem tafsir selalu berkaitan dengan proses pemahaman, penafsiran dan penerjemahan atas sebuah teks pesan (lisan atau tulisan) untuk selanjutnya disampaikan kepada masyarakat yang hidup dalam tradisi, zaman, atau mungkin bahasa yang berbeda.

Lima Langkah Memahami Alquran
Banyak kalangan umat Islam, untuk menyebut mayoritas, masih berkutat pada membaca Alquran, namun belum secara masif memahami makna bacaan tersebut, apalagi berdialog dengannya. Hal tersebut seringkali memunculkan kesalahpahaman, bahkan yang lebih bahaya memunculkan pemahaman yang salah. Untuk itu, Alquran hendaknya dijadikan mitra dialog melalui 5 langkah; membaca (tilawah), memahami (tafhim), mengamalkan (amal), mengajarkan (ta’lim), dan melestarikan (tanfidz). Lima langkah ini bersifat tartib (urut) yang tidak bisa dipertukarkan.

Sebagai ilustrasi, ketika membaca ayat al Quran surat Al-Kahfi ayat 66-67 berikut:

قَالَ لَهُۥ مُوسَىٰ هَلۡ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰٓ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدٗ قَالَ إِنَّكَ لَن تَسۡتَطِيعَ مَعِيَ صَبۡرٗ

Berdialog dengan Alquran pada ayat tersebut bisa dilakukan 5 langkah; Pertama, membaca ayat tersebut secara benar menurut ilmu tajwid; bacaan mad dipanjangkan, ghunnah didengungkan, idhar tanpa dengung, makhraj disesuaikan, dan lain-lain. Kedua, memahami ayat tersebut dimulai dengan terjemah Bahasa Indonesia, seperti terjemahan berikut:

Nabi Musa berkata (kepada Nabi Khidir), “Apakah aku boleh mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku kebenaran yang telah diajarkan kepadamu? Khidir berkata, ”Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup bersabar bersamaku”

Kemudian, memahami ayat tersebut melalui kitab-kitab tafsir, baik tafsir bahasanya, makna hakikinya, maupun makna majasnya. Misalnya Ibnu Katsir menafsiri ayat tersebut bahwa ada beda antara Ilmu Nabi Musa dan Nabi Khidir. Dalam istilah Islam, Nabi Musa menggunakan ilmu syariah yang sesuai teks, dan Nabi Khidir dengan ilmu haqiqah yang sesuai konteks. Pertanyaan ‘apakah (hal)’ itu secara teks meminta jawaban ‘ya (na’am)’ dan ‘tidak (la)’, Namun nyatanya, Nabi Khidir tidak melakukan hal itu, malah menjawabnya dengan uslubul hakim, yaitu jawaban lain yang sesuai konteks. Dalam teori uslubul hakim, semestinya bukan kalimat tanya hal (what), tetapi kaifa (how). Ketiga, mengamalkan ayat tersebut, dengan mempraktekkan model pertanyaan yang sesuai diajukan agar memperoleh jawaban yang lebih baik. Pertanyaan receh-receh yang tidak perlu, apalagi cenderung ta’annuth (mempersulit diri) mesti dihindari. Dalam kajian ilmu ma’ani, ketepatan memilih diksi kata dan keadaan/situasi ketika kata tersebut diujarkan dinamakan muqtadhal hal. Keempat, mengajarkan ayat tersebut, baik bacaan, pemahaman, maupun pengamalannya. Kelima, melestarikan, dengan cara istiqamah (terus menerus) dalam melakukan keempat langkah tersebut.

Bahasa Alquran
Dari sudut pandang semiotika, apapun yang kita jumpai di sekeliling kita adalah teks yang bisa dibaca dan ditafsir. Teks dalam pengertian ini hampir identik dengan ayat dalam bahasa Arab, yang berarti tanda, baik yang dhahiriyah (nomena) maupun kauniyah (fenomena). Kehadiran sebuah tanda (signifier) selalu mengasumsikan adanya obyek yang ditandai (signified). Fenomena mendung, umpamanya, mempunyai korelasi dengan air, baik air berupa gumpalan asap dari laut ataupun tanda ada hujan yang tidak selalu turun.

Segala sesuatu di dunia ini membutuhkan sarana komunikasi yaitu bahasa, bahkan Tuhan pun berkomunikasi dengan manusia memerlukan media bahasa, misalnya Alquran yang berbahasa arab. Persoalan yang muncul antara lain: apa jaminannya bahwa sebuah komunikasi terhindar dari salah paham? Apakah generasi di lain waktu dan tempat akan menangkap gagasan dari generasi terdahulu dengan diwakili sebuah teks/karya tulis? Lebih jauh, benarkah pemahaman seorang muslim tentang isi Alquran sudah persis sebagaimana yang dikehendaki oleh pengarang (Tuhan)? Bisakan kita menangkap gagasan Nabi Muhammad hanya melalui sepotong kalimat dalam hadist?

Tulisan ini terlalu singkat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sebab jawaban bisa dari berbagai disiplin ilmu; agama, sosial, budaya, termasuk politik. Namun, secara lebih sederhana bisa dijawab bahwa proses pemahaman Alquran bisa menggunakan cara abduksi, yaitu menjelaskan data berdasarkan asumsi dan analogi penalaran serta hipotesa-hipotesa yang memiliki berbagai kemungkinan kebenaran.

Kata Simpul
Pernah terjadi dialog antara Nabi Ibrahim dengan Namrudz. Dialog tersebut diabadikan dalam Alquran surat al Baqarah Ayat 258. Jika kita cermati makna ayat tersebut, tampak betapa pentingnya penggunaan bahasa dalam berdialog. Nabi Ibrahim dengan lugas menunjukkan dalil logika sederhana kepada Namrudz bahwa Tuhan bisa menghidupkan dan mematikan. Namrudz masih bisa ‘ngeles’ bahwa dirinya pun bisa memberi putusan hidup dan mati pada dua orang yang diajukan kepadanya. Namun, ketika Nabi Ibrahim menyampaikan argumen bahwa Tuhan menerbitkan matahari dari timur, apakah Namrudz bisa menerbitkan dari barat, ‘fabuhital ladzi kafar’ Namrudz menyerah.

Menilik kisah tersebut, hendaklah kita bisa berdialog dengan apa dan siapa pun. Berdialog dengan Alquran menuntut kita untuk membaca dengan benar, memahami dengan tepat, mengamalkan dengan sungguh-sungguh, mengajarkan dengan ketulusan, dan melestarikannya di semua sisi kehidupan kita.