Pada periode antara tahun 610 M sampai 632 M Nabi Muhammad SAW menerima wahyu Al-Qur’an melalui Malaikat Jibril. Sejak pertama kali turun, Al-Qur’an membawa misi mulia, yaitu memberi petunjuk (hudan) bagi manusia yang hidup di ruang dan waktu yang tak terbatas. Akankah Al-Qur’an terus dijadikan tuntunan hidup di saat dunia sedang dan terus mengalami perubahan? Akankah Al-Qur’an terus dijadikan obat (syifa’) penyakit masyarakat modern yang cenderung bersikap apatis?
Semestinya umat Islam tidak hanya aktif membacanya, namun juga memperluas pemahaman pada ayat-ayatnya, sehingga mampu membawa dampak besar dalam membentuk sikap hidup umat Islam agar senantiasa menjadikannya sebagai tuntunan sekaligus obat yang mujarab. Jika pemahaman tersebut dilakukan dengan baik, akan tercipta ketenangan (muthmainnah) dan kesenangan (farah) beribadah. Namun, pengaruh teknologi dengan segala derivasinya membawa kenyataan bahwa 74,6% masyarakat Indonesia (mayoritas muslim) merupakan pengguna media sosial aktif (Global Overview, 2025). Ini menandakan sebagian besar muslim Indonesia telah terpengaruh secara signifikan oleh media sosial tersebut, dan hanya sebagian kecil yang tidak/kurang terpengaruh. Malahan, pengaruh tersebut cenderung negatif dan, menurut analisa Jean Baudrillard (2007), mengarah kepada terbentuknya hiperrealitas, yaitu konsep yang mengacu pada simulasi yang tampak lebih nyata dari kenyataan itu sendiri. Dalam konteks fenomena hiperrealitas, keinginan bisa menjadi bentuk dari simulasi yang menutupi hakikat kehidupan yang sebenarnya. Simulasi-simulasi tersebut sering kali memanipulasi harapan dan cita-cita manusia, mengarahkan mereka pada sesuatu yang tidak nyata dan mengabaikan tujuan hidup yang lebih mendalam. Di titik ini lah peran Al-Qur’an untuk memproteksi sekaligus mengkurasi fenomena hiperrealitas ini sangat tepat diterapkan.
Proteksi Al-Qur’an
Dalam perspektif Al-Qur’an, hiperrealitas sejatinya merupakan peringatan terhadap ilusi dan kepalsuan yang ada di dunia ini. Al-Qur’an mengajarkan umat manusia untuk lebih menyadari realitas hakiki yang lebih besar dari dunia material dan teknologi, dan untuk tidak terjebak dalam simulasi yang mengaburkan pandangan tentang kebenaran. Al-Qur’an, misalnya, mengajarkan umat Islam untuk mampu membedakan antara yang nyata dan yang tampak (Al-Hujurat: 12), mengajarkan untuk tidak cepat menilai sesuatu berdasarkan tampilan luar yang dapat menyesatkan, tidak terjebak dalam prasangka atau yang tampak di permukaan (termasuk citra media sosial), karena bisa jadi itu adalah representasi yang menyesatkan dari kenyataan yang sebenarnya.
Dalam Al-Qur’an, kehidupan dunia sering kali digambarkan sebagai sesuatu yang sementara dan penuh dengan ilusi (Al-Hadid: 20). Konsep ini bisa dianalogkan dengan fenomena hiperrealitas, yaitu dunia yang tampak nyata ini hanya merupakan bayangan atau ilusi sementara yang terkadang menutupi makna yang lebih dalam dan abadi, yaitu kehidupan setelah mati. Al-Qur’an mengajarkan umat Islam untuk tidak terjebak dalam simulasi dunia yang bersifat sementara, melainkan untuk mencari kebenaran hakiki yang ada pada kehidupan akhirat.
Representasi-representasi yang dibuat dalam dunia digital sering kali membentuk realitas baru yang lebih dominan dari kenyataan itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dalam kehidupan modern yang menjadikan media sosial mampu menciptakan identitas yang terkadang lebih ideal dari yang nyata. Ulama Salaf memandang bahwa realitas merupakan sesuatu yang sudah ditentukan oleh Allah dan harus dipahami sesuai dengan wahyu yang diturunkan. Mereka percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah bagian dari takdir dan hukum-hukum Allah. Dalam konteks ini, dunia nyata bukanlah sesuatu yang dapat dipahami dengan cara yang kabur atau penuh dengan penafsiran subjektif.
Kurasi Al-Qur’an
Al-Qur’an banyak berbicara tentang kebenaran dan pemahaman yang benar tentang dunia ini. Misalnya, dalam surah Al-Hujurat: 6, disebutkan pentingnya verifikasi informasi dan tidak mudah percaya pada berita yang belum jelas kebenarannya. Dalam dunia modern yang penuh dengan informasi, terutama melalui media sosial, sering kali kita dihadapkan pada berbagai macam representasi yang tidak akurat, bahkan lebih mirip dengan simulasi atau hiperrealitas, yang tidak mencerminkan kenyataan secara objektif.
Agar sembuh dari perilaku hiperrealitas tersebut, Al-Qur’an mengkurasi umat Islam agar mengubah mindset dari perilaku berlebihan dan yang cenderung overgeneralisasi kepada perilaku yang mengedepankan kebenaran, kejujuran, dan kesederhanaan (Al-A’raf: 31). Fenomena hiperrealitas sosial sering kali menyebabkan orang merasa harus mengikuti tren atau gaya hidup yang tidak realistis dan cenderung berlebihan. Al-Qur’an mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam segala hal: Ajakan ini mengingatkan untuk menjaga keseimbangan dan tidak terjebak dalam pencitraan atau penampilan yang berlebihan yang tidak mencerminkan kenyataan diri kita.
Cara lain adalah dengan mengembangkan sikap keikhlasan dan ketulusan (Al-Bayyinah: 8), yaitu keikhlasan dalam beramal dan berinteraksi dengan sesama, bukan sekadar penampilan luar yang menarik. Hiperrealitas sosial sering kali menggiring orang untuk fokus pada citra luar, padahal yang lebih penting adalah keikhlasan dan kualitas dalam diri. Juga, dengan cara mencari keseimbangan dalam hidup (Al-Mulk: 15), yaitu mengajarkan pentingnya mencari keseimbangan dalam hidup, termasuk dalam dunia digital dan media sosial: Di dunia yang semakin didominasi oleh citra dan media sosial, penting untuk tetap menjaga keseimbangan dan tidak terjebak dalam pencitraan atau narasi yang dibangun oleh pihak luar
Tenang dan Senang Beribadah
Sesuai petunjuk Al-Qur’an sebagai hudan lilmuttaqin, maka Al-Qur’an sebenarnya telah memberikan tuntunan kepada masyarakat muslim dalam menghadapi fenomena akhir zaman ini. Rasulullah SAW yang berakhlak Al-Qur’an telah memberi uswah dan qudwah dalam menjalani hidup yang penuh dengan kebajikan, kesabaran, kebijaksanaan, dan kasih sayang. Realitas kehidupan Nabi yang penuh dengan keutamaan ini, sangat dibanggakan dan diterima oleh umat Islam, menjadi pola hidup ideal yang seharusnya dicontohkan
Sinar Al-Qur’an memberi kesempatan kepada umat Islam mencari kebenaran yang hakiki, bukan sekedar mengikuti citra atau ilusi melalui lapar dan dahaga, dzikir dan berdoa, tafakur dan bersyukur. Cahaya Al-Qur’an mengajari umat Islam untuk tidak terpengaruh oleh media sosial dan distorsi citra, untuk mencari kebenaran sejati dan menilai segala sesuatu berdasarkan fakta, bukan sekadar citra yang beredar. Semoga sinar Al-Qur’an mampu merasuk ke relung hati setiap insan dan menjadikan hati tenang dan senang, setenang bertemu Sang Khaliq pada saatnya nanti.